Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Oleh Ustadz Saiful Azhari
“Jalaul Afkar, Hadist Ke 13”
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amar Al Anshori Al Badri r.a Ia berkata : Nabi saw bersabda:
(Sesungguhnya termasuk sesuatu yg diperoleh manusia dari bagian sabda kenabian permulaan adalah; jika kamu tidak punya perasaan malu maka kerjakanlah APA yang kamu sukai)
Diawal dakwah bersama para sahabat utama Assabiquunal _awwaluuna_di Mekkah, Rasuulullah mendidik aspek2 pokok dalam Sisi aqidah dan keimanan, dan tauhid semata. Pada fase dakwah Mekkah, yg bersifat dakwah Sirr, Rasuulullah melakukan pembinaan dan pengkaderan di Darun Nadwah, rumah sahabat Arqom bin Abi Arqom beserta sejumlah kecil sahabat.
Belum banyak ayat ayat yg berkaitan dgn Tata cara ibadah mahdhoh dan tata cara baku dalam muamalah seperti yg kita kenal saat ini diberbagai pembahasan fiqh.
Oleh karena itu, pembinaan dan pengkaderan Rasuulullah yang meliputi 3 aspek utama yaitu: Aqidah, tadzkiyah dan Tsaqofah mengutamakan suur (Rasa) beragama, atau yang kita kenal dengan istilah DZAUQ.
Aspek ‘rasa dalam beragama’ (dzauq) yang dibangun oleh Rasuulullah diawal masa kenabian sebagaimana tergambar dalam Hadits diatas adalah mengasah kepekaan rasa malu; malu kepada Allah, Rasuulullah, Malaikat ataupun malu kepada diri sendiri dan sesama manusia.
Begitu pentingnya rasa malu ini tumbuh Dalam diri seorang Muslim, sampai sampai Imam Nawawi dalam kitabnya (kitabul ‘adab) membahas keutamaan malu dalam Bab tersendiri dan mengemukakan keutamaannya agar seorang Muslim berakhlak dengan rasa malu.
Ibnul Qoyyim Al jauziyyah bahkan mensejajarkan Al haya ‘ ( malu) dengan
Al hayah (hidup). Sebagai pelajaran seolah olah orang yang tak punya rasa malu sama dengan orang yang tak hidup alias mati.
Rasa malu (Al haya’) merupakan bagian Dari pundi pundi Iman. Selain Al ‘ayyun ( gagap, bermakna kehati hatian dlm berbicara) Dan Al ‘afaaf ( mudah terima, tidak hitungan).
Oleh Karena besarnya keutamaan Rasa malu ini, make syaithon melakukan berbagai macam cara dan tipu daya agar akar Rasa malu tercerabut dari akhlak seorang mukmin. Bahkan syaithon menjadikan hilangnya rasa malu pada diri seseorang sebagai bagian dari program utama penhjancuran manusia.
Lalu, kita menyaksikan apa yang terjadi saat ini, didepan mata Kita, generasi kita bahkan para tetua tetua kita. Hilangnya rasa malu Al haya’) seolah menjadi fenomena umum, yg menjangkiti hampir semua kalangan, baik masyarakat biasa maupun pejabat Dan orang2 yg diberi amanah kepemimoinan.
Masyarakat seolah terbiasa mendapati anggota leluarganya yg melakukan perzinahan, Hamil sebelum nikah, narkoba, miras dan lain lain.
Seringkali Kita lihat orang tua yg memaksa menikahkan anaknya yg sdh hamil di kantor KUA atau mendatangi seorang ustadz dengan dalil agar anak yg dikandung mendapat pengakuan.
Al hasil, Yang dipikirkan oleh orang tua bukanlah akibat dari dosa besar tersebut, dihadapan pengadilan Allah kelak.
Sebaliknya hanya mengkhawatirkan pandangan manusia dan masa depan pelaku sendiri.
Keterputusan nasab anak hasil zina merupakan konsekwensi logis akibat pembangkangan pada syariat Allah.
Jangankan zina, mendekati zina saja sudah sangat dilarang dalam Islam seperti pacaran dan mengumbar aurat. Inil adalah tindakan preventif yg seharusnya diperhatikan Orangtua dlm mendidik putra putrinya.
Orangtua seharusnya menyadari perbuatan zina hanyalah akibat lanjut dari Sikap permisif nya pada anak perempuannya yang mengumbar aurat dan pacaran.
Tidak kah Orangtua Dan pelaku memiliki Rasa malu pada Allah, pada keluarga lain juga pada masyarakat?.
Alhasil, pergeseran nilai semakin nyata. Menganggap biasa pada dosa2 besar karena telah menjangkiti banyak orang oleh perilaku yg tidak dihiasi rasa malu.
Para pemimpin juga setali tiga uang, sebagian begitu mudah melakukan penipuan,.membuat janji janji palsu, memamerkan banyaknya harta hasil menjabat dll.
Tertangkap polisi atau dikasuskan Di KPK seolah menjadi biasa.
Kalau kita mengkaji kita2 siroh Rasuulullah dan para sahabat yg Allah beri gelar RADHIYALLAHU ‘ANHUM, Kita mendapati akhlak Yang agung Yang dihiasi rasa malu yang tinggi. Hingga seolah olah beliau beliau layaknya mutiara yang tak tampak namun cayahanya bersinar memukau pandangan siapapun yang melihatnya.
Rasa malu yang tertanam pada diri beliau oleh kuatnya proses tarbiyah Rasuulullah bahkan sudah menjadi bagian dari akhlak keseharian (Rasa malu ya NAFSANI, tabiat/watak) dalam menghadapi situasi apapun sebagaiman yang tergambar dalam Rasa malunya sahabat Utsman Bin Affan ra.
Atau Dalam kisah sahabiyah Ma’an, Yang suami nya mudah cemburi. Beliau rela berjalan kaki 14 kilometer jauhnya dipadang pasir dan menolak tawaran tumpangan dari pada sahabat lain. Beliau memilih berpayah payah sedemikian rupa disebabkan rasa malu yang tinggi jikalau menumpang boncengan lelaki selain suaminya. Beliau2 adalah manusia agung yang telah mencapai tingkatan malu Yang terkait keimananan (Al haya’ u iimaani) pada tingkatan paling tinggi, yaitu menghindari keburukan sekecil papun hanya karena takut pada Allah semata, bukan celaan atau komentar manusia.
Wallahu yatallil jamii’iy berri’aayatih…
Resume by Ummu Naseem
Dari Ana’s Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi s.a.w beliau bersabda: “Sesungguhnya agama ini begitu kokoh, maka masuklah kedalamnya dengan kelembutan karena sesungguhnya orang Yang memaksakan diri (dengan mengangkat beban lebih)tidak akan bisa sampai tujuan dan punggungnyapun patah”
Adalah Allah bersifat Ar Rohmaan dan Ar Rahiim. Dua Nama Allah Yang sering Kita lafadzkan ini menunjukan bahwa Allah lebih mendahulukan kasih sayang Nya pada manusia sebelum azab serta murka Nya.
Salah satu atsar dari sifat Ar Rahmaan dan Rahiim Allah terlihat pada penciptaan Alam semesta bersama seluruh isinya. Mulai dari benda2 makrokosmos (benda2 angkasa beserta kesempurnaan sistim yg melingkupinya) maupun benda benda mikrokosmos (benda2 mikroskopis seperti atom, electron dan proton). Yang berada dekat kita dan mudah dilihat seperti manusia dan binatang disekitar maupun yg berada diluar jangkauan kita.
Melalui ciptaan yg kasat mata ini Allah membentangkan bukti yg kuat tentang fakta penciptaan yang memungkinkan manusia berjalan menuju keimanan dan keyaqinan pada Allah semata melalui ayat ayat kauniyah ini.
Karena sejatinya tidaklah Allah mentaqdirkan manusia hadir didunia ini dengan misi ‘penghambaan’ untuk penerima pembebanan syara’ (taklifus syar’iy) sebelun Dia menyertakan nya dengan bukti bukti kuat tentang keberadaan Nya yang bisa diindera oleh manusia.
Selain itu, Allah juga menurunkan Hidayah Taufik berupa diutusnya para rasul disetiap zaman hingga rasul terakhir , penutup para nabi, Rasuulullah Al Mustofa.
Diutusnya beliau dengan Alquran sebagai mukjizat terbesar juga sebagai Hudan, petunjuk yang menjelaskan tentang kebenaran Allah, Malaikat, Rasul, kitab, taqdir dan hari kiamat. Tentang pokok pokok keimanan sebagaimana Yang termaktub dalam ayat ayat _qauliyah .
Keimanan yang dibangun diatas aqidah yg kokoh, berdasar pencarian,perenungan juga telaah pada ayat ayat kauniyah dan qouliyah. Melahirkan ikatan kuat (‘aqodah) akan janji setia pada Allah dan Rasuulullah.
Tidak ada PAKSAAN dalam Islam.
Setelah memperoleh cahaya keimanan, manusia mengenal Allah sebagai Tuhan Yang patut disembah dan ditaati termasuk memberi ketaatan pada Rasuulullah atas perintah Allah. Manusia beriman akan rela menghamba sebagai wujud ketundukannya pada sang pencipta, menerima segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya.
Hatinya RELA untuk menerima Islam berdasar keyaqinan yang diperolehnya
Tidak ada PAKSAAN dalam Islam
Telah terlihat pada diri sahabat Bagaimana bangunan kokok aqidah Islam, membentuk akhlaq dan karakter mereka dengan sangat kuat. Ibarat ketegaran Batu karang yang seolah tak bergeming diterpa hujan panas juga gelombang yang datang silih berganti.
Kita membaca kisah Abu Bakar r.a, yang teguh memberi pembenaran ditengah kaum yang semua mendustakan. Bagaimana seorang Abdullah bin Mas’ud, seorang penggembala yang dianggap hina berani menentang iman para pembesar qurays dengan membacakan Surat Ar Rahmaan ditengan perkumpulan mereka didepan Ka’bah. Sehingga tubuh ringkihnya babak belur oleh pengeroyokan.
Inilah wujud keimanan yang kokoh dalam menerima Islam.
Tidak ada PEMAKSAAN
Dalam Islam..
” Maka masuklah kedalamnya dengan kelembutan (birifqin)”
Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Rasuulullah ketika mengajak orang mengenal Islam. Beliau selalu menunjukan akhlak yg baik, lemah lembut, dermawan dan penuh kasih sayang pada manusia bahkan yang belum beriman sekalipun. Kisah Rasuulullah menyuapi seorang bapak tua yang beragama Yahudi disudut Kota Madinah. Padahal setiap saat, si Yahudi buta ini terus mengeluarkan kata2 kasar dan sumpah serapah pada Rasuulullah. Namun balasan Rasuulullah Sungguh mulia, beliau tetap menyuapinya tiap hari hingga kewafatan beliau.
Saat Abubakar menggantikan Rasuulullah menyuapi si Yahudi, dia merasa ini bukan orang yang biasa menyuapinya. Karena merasa berbeda, iapun bertanya “siapa engkau? Yg biasa menyuapiku orangnya lembut dan penuh kasih sayang, sementara engkau kasar”. Sahabat mulia Abubakarpun menangis Dan menceritakan kalau Rasuulullah telah wafat. Seketika Yahudi buta ini menangis, menyesali kata2 kasarnya pada beliau Dan akhirnya masuk Islam.
Selain mendahulukan kelembutan Dan kasih sayang dalam mengajak orang mengenal Islam, Rasuulullah juga mengajarkan kita agar memudahkan dalam segala urusan, jangan mempersulit, berusaha membuat hati orang lain senang dan berbaur dengan manusia2 yang bermacam macam.
Tidak ada PEMAKSAAN Dalam Islam
“Karena esungguhnya orang Yang memaksakan diri (dengan mengangkat beban lebih) tidak akan sampai tujuan dan punggungnya pun patah”
Termasuk tindakan memaksakan diri dikalangan kaum muslimin adalah Sikap ghuluw(berlebihan, terlalu) atau Ekstrim Dalam beragama.
Hal ini ditunjukan dengan adanya fenomena orang banyak berbicara tanpa ilmu. Mudah mengutip Ayat ayat Alquran atau Hadits yang dianggapnya sebagai dalil dalam menghukumi sesuatu. Padahal sangat jauh panggang dari api.
Dengan pengetahuan yg apa adanya mereka lancang berfatwa menghukumi takfir, tadhlil Dan tabdi’ pada orang diluar kelompok mereka.
Lebih2 lagi, mereka fanatik buta pada pendapat mereka sendiri. Hanya mau menerima pendapat yang berasal dari kelompoknya tanpa mau menerima kritik meski berlandaskan ilmu yg jernih.
Mereka berpendapat dan menolak keras pendapat yang berbeda padahal hanya persoalan furu’. Mereka bahkan mencela tindakan yang tidak sesuai dengan sikap mereka dengan menuduh hal tersebut tidak berdasar dalil. Padahal ketika disodorkan dalil, kebanyakan mereka diam karena jauh dari memahami.
Mereka juga berbicara seolah mampu melakukan istimbath hukum dan mencela orang lain yang mengambil pendapat para ulama dengan label “taqlid buta”
(Lihat ‘alaa bashiiroh, diatas jalan petunjuk,(K.H.M Ihya’ Ulumiddin) hal;385.
Mereka diibaratkan dengan orang yang suka mengangkat berat lebih, menunjukan keshalihan beragama dengan cara berlebihan dalam melaksanakan syariat2 dhohir. Sebaliknya melalaikan kerusakan2 sisi tazkiyah seperti mudah marah, mencela dan berkata kasar.
Benarlah apa yang telah disampaikan Rasuulullah 14 abad yang lalu. Abu Ya’la meriwayatkan sebuah Hadits dari Hudzaifah Yang menuturkan bahwa Rasuulullah SAW bersabda:
“Yang Aku khawatirkan adalah akan adanya orang Yang membaca Al Quran hingga dilihat orang lain Akan kebagusannya. Ia beebaju Islam tetapi kemudian terlepas lalu dicampakan kebelakang punggungnya Dan is mendatangi tetangganya sambil membawa pedang Dan menuduhnya sebagai musyrik”. Aku bertanya: “Ya Nabiyallah, manakah yang lebih tepat disebut musyrik, Yang dituduh atau yang menuduh?” Beliau menjawab: “Yang menuduh”
Wallohu yatawallil jamii’a birri’aayatih..
“Ummu Naseem”
Materi Taklim PP Al Aiman (oleh: Ustadz Saiful Azhari)
Dari Abdullah Bin Umar r.a, ia berkata: Rasuulullah s.a.w bersabda: “Manusia itu seperti seratus kumpulan dari seratus kelompok unta yg hampir tidak Kamu dapatkan diantara satu unta yg bisa dijadikan kendaraan”
Hadits ini merupakan Hadits sederhana yg syarat makna, tentang gambaran kehidupan akhir zaman. Dimana manusia semakin sulit mengenal dirinya sendiri, memakai keberadaan nya didunia, juga maksud dan tujuan Allah menciptakan nya. Manusia semakin terkekang oleh nafsu Dan sulit mengendalikannya oleh Karena minimnya ilmu Diin dan lemahnya tarbiyah.
Hadits ini menggunakan kata ‘roohilah’ yakni mengandung makna sulitnya mendapatkan unta yg bisa dinaiki. Bermakna sulitnya mengkader manusia manusia agar bisa menjadi manusia paripurna, manusia pilihan yg memiliki ilmu dan hidmah (pengabdian) yg tinggi serta semangat berjuang pantang menyerah.
Mencari orang2 terpilih atau kader2 militan yg komitmen dengan dienul Islam dizaman ini diibaratkan mencari 1 unta diantara 10.000 unta.
Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain sebagaimana yg disebutkan oleh Fudhoil bin Yaman sebagai dukhoon, ‘kabut’ pada keimanan. Oleh sebab kedangkalan aqidah, kerusakan pemikiran, kecenderungan pada keburukan dan maksyiat. Termasuk mudahnya Kita mengakses informasi tentang keburukan yg jauh dari ukuran syariat. Sementara informasi tentang amal kebaikan dan orang orang sholih seolah sengaja ditenggelamkan.
Selain itu, Di jaman ini pula mudah kita temukan orang orang berbicara tanpa ilmu, mengutip ayat ayat Alquran dan Al Hadits tanpa pemahaman yg benar Dan lurus. Mereka hanya mempeturutkan hawa nafsu dunia dan mencari ketenaran semata. Agama yg mulia ini tak lagi ditempatkan pada keluruhuran dan keagungannya sebagaimana sunatullah diwahyukannya pada Rasuulullah. Sebaliknya hanya sebagai alat utk mendapatkan keuntungan dunia yang tak seberapa.
Tak ayal, manusia semakin banyak yg apatis pada agama manakala ia hanya menjadi perdebatan kusir dimimbar mimbar dan dipertentangkan pemahamannya dengan saudara seiman lainnya.
Kader militan yg mumpuni semakin langka ditemukan. Dan lembaga yg mengkader calon calon generasi militan seperti inipun, semakin langka, dijauhi, ditinggalkan dan tak dianggap kren.
Abuya Sayyid Muhammad dalam kalam beliau yg terkenal menyikapi hal ini mengatakan:
Hubbah,hubba,hubbah. Idzaa baarokal Maulaa, tulqiil hubuuba.. (satu biji, satu biji, satu biji, kalau Allah meletakkan berkah maka akan menyebar dengan sendiri nya dan akan muncul tunas tunas baru)
Hadits ini juga menjadi pengingat atau tadzkiroh bagi para guru dan murobiy yg memiliki lembaga yg diniatkan utk menghasilkan kader2 yang mumpuni atau menusia manusia yang beekarakter. Meski terasa sangat sulit dan dalam mengelolanya tidak jarang mendapat ujian bertubi tubi. Bahwa ada setitik harapan beratnya usaha pengkaderan dan berbagai ujian yg mendera didalamnya akan memunculkan berkah, yg tanpa disadari meskipun hanya satu tunas pada akhirnya akan menyebar dengan sendiri nya dan melahirkan tunas2 baru.
Berkahlah yg harus dicari dan terus diupayakan bukan banyaknya pengikut. Meski lembaga pengkaderan yg dibangun ini tampak ‘sepi’, tdk gemerlap bahkan cenderung ditinggalkan orang. Tapi didalamnya ada berkah yang selalu diupayakan oleh para guru, dengan terus menyebarkan ilmu, disertai doa doa tulus, kesabaran dan keberterimaannya pada segala kesulitan yg ada.
Karena berkah bersifat
‘Al barkatu haashilah. Amrun maknawiy”.
Berkah itu tak kasat Mata tapi maknanya terasa dihati. Ia bermakna dalam kemanfaatannya yg luas.
Gambaran makna keberkahan bisa dilihat pada sejarah kehidupan para ulama dan Waliyullah dari generasi generasi shalafusholeh terdahulu. Seperti kisah kitab dasar Bahasa Arab, Jurumiyah. Tak pernah diketahui siapa pengarang kitab tersebut, tapi ia menjadi rujukan wajib diberbagai pesantren dlm belajar ilmu nahwu. Diceritakan bahwa kitab Jurumiyah setelaha ditulis lalu dilempar kelaut. Pengarangnya meyakini bahwa kalau kitab ini ditulis dengan ikhlas dan akan besar manfaatnya, nanti akan ditemukan orang.
Kemudian kitab ini ditemukan oleh seorang nelayan ditepi laut lalu kemudian menyebar sampai dipesantren tanah Jawa.
Hal ini menjadi sebuah pembelajaran bagi kita ketika ingin mendidik diri, mencari ilmu dan mentarbiyah jiwa untuk mencapai kesempurnaan diri. Kemudian Kita berada dlm sebuah lembaga atau entitas organisasi keilmuan dan dakwah, maka kita perlu memperhatikan sisi berkah yg harus kita temui dan rasakan didalamnya. Meski kadang lembaga seperti ini terlihat sepi sepi saja, kurang banyak peminat juga tidak nampak kren, namun bila masih bisa meneguk ilmu dan hikmah didalamnya. Kemudian ilmu itu menyantuh Hati dan menggugah jiwa sehingga menggerakkan hati untuk semangat berbuat baik, maka berpegang teguh padanya menjadi sebuah pilihan mulia.
Meskipun syaithon terus menggoda dan membisikan rasa jenuh dan bosan juga menampakan kekurangan kekurangan lalu membuat kita ingin lari dan menjauhinya.
Dan yang harus dipahami bahwa Ilmu yg diperoleh sejatinya bukan semata tentang seberapa banyak yg masuk dalam otak atau yg mampu kita hafal, namun lebih pada seberapa besarkah ia membekas pada jiwa? Yang kemudian melahirkan akhlak pada guru,sahabat dan lingkungan kita.
Dalam Hadits dikatakan:
” Bukanlah ilmu itu tentang banyaknya, tapi yg disebut ilmu adalah pada berkahnya”
Proses mencari berkah ilmulah yg seharusnya terus kita upayakan dalam kelompok kecil ini. Segala ujian yang menyertai didalamnya pada hakikatnya hanyalah ‘cara’ Allah untuk menguji keikhlasan kita. Apakah dalam proses mencari ilmu dan mengamalkannya masih terselip penyakit penyakit yang mengotori hati seperti ujub, riya Dan bangga diri. Sehingga kotornya hati tersebut memghancurkan amal sehingga menghalangi sampainya pada Allah. Disinilah Kita memahami ujian sebagai jalan membersihkan hati dan amal kita.
Dalam kebersamaan mengkaji ilmu dien inilah kita saling bahu membahu melakukan dakwah dan hidmah ( pengabdian) untuk melatih keikhlasan kita dlm perjalanan menuju Allah.
Ada 3 proses yg mengantarkan kita agar memperoleh berkah ilmu
Kalam hikmah Abuya Sayyid Muhammad Al Malikiy
“Melekatnya ilmu dapat diperoleh dengan cara Banyak membaca dan barokahnya dapat diraih dengan cara berhidmah, sedangkan manfaatnya dapat diperoleh dari adanya restu sang guru’
Di resume oleh Ummu Naseem
Lembaga Sosial Keagamaan dibawah naungan Ponpes Nurul Haromain pujon Malang. Al aiman beralamat di Jl LPMP Jogjakarta. Tirtomartani Kalasan Sleman
This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.
You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.
Why do this?
The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.
To help you get started, here are a few questions:
You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.
Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.
When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.