KERELAAN DALAM IMAN “Tidak ada paksaan dalam Islam”

Dari Ana’s Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi s.a.w beliau bersabda: “Sesungguhnya agama ini begitu kokoh, maka masuklah kedalamnya dengan kelembutan karena sesungguhnya orang Yang memaksakan diri (dengan mengangkat beban lebih)tidak akan bisa sampai tujuan dan punggungnyapun patah”

Adalah Allah bersifat Ar Rohmaan dan Ar Rahiim. Dua Nama Allah Yang sering Kita lafadzkan ini menunjukan bahwa Allah lebih mendahulukan kasih sayang Nya pada manusia sebelum azab serta murka Nya.

Salah satu atsar dari sifat Ar Rahmaan dan Rahiim Allah terlihat pada penciptaan Alam semesta bersama seluruh isinya. Mulai dari benda2 makrokosmos (benda2 angkasa beserta kesempurnaan sistim yg melingkupinya) maupun benda benda mikrokosmos (benda2 mikroskopis seperti atom, electron dan proton). Yang berada dekat kita dan mudah dilihat seperti manusia dan binatang disekitar maupun yg berada diluar jangkauan kita.

Melalui ciptaan yg kasat mata ini Allah membentangkan bukti yg kuat tentang fakta penciptaan yang memungkinkan manusia berjalan menuju keimanan dan keyaqinan pada Allah semata melalui ayat ayat kauniyah ini.

Karena sejatinya tidaklah Allah mentaqdirkan manusia hadir didunia ini dengan misi ‘penghambaan’ untuk penerima pembebanan syara’ (taklifus syar’iy) sebelun Dia menyertakan nya dengan bukti bukti kuat tentang keberadaan Nya yang bisa diindera oleh manusia.
Selain itu, Allah juga menurunkan Hidayah Taufik berupa diutusnya para rasul disetiap zaman hingga rasul terakhir , penutup para nabi, Rasuulullah Al Mustofa.

Diutusnya beliau dengan Alquran sebagai mukjizat terbesar juga sebagai Hudan, petunjuk yang menjelaskan tentang kebenaran Allah, Malaikat, Rasul, kitab, taqdir dan hari kiamat. Tentang pokok pokok keimanan sebagaimana Yang termaktub dalam ayat ayat _qauliyah .

Keimanan yang dibangun diatas aqidah yg kokoh, berdasar pencarian,perenungan juga telaah pada ayat ayat kauniyah dan qouliyah. Melahirkan ikatan kuat (‘aqodah) akan janji setia pada Allah dan Rasuulullah.

Tidak ada PAKSAAN dalam Islam.

Setelah memperoleh cahaya keimanan, manusia mengenal Allah sebagai Tuhan Yang patut disembah dan ditaati termasuk memberi ketaatan pada Rasuulullah atas perintah Allah. Manusia beriman akan rela menghamba sebagai wujud ketundukannya pada sang pencipta, menerima segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya.

Hatinya RELA untuk menerima Islam berdasar keyaqinan yang diperolehnya

Tidak ada PAKSAAN dalam Islam

Telah terlihat pada diri sahabat Bagaimana bangunan kokok aqidah Islam, membentuk akhlaq dan karakter mereka dengan sangat kuat. Ibarat ketegaran Batu karang yang seolah tak bergeming diterpa hujan panas juga gelombang yang datang silih berganti.

Kita membaca kisah Abu Bakar r.a, yang teguh memberi pembenaran ditengah kaum yang semua mendustakan. Bagaimana seorang Abdullah bin Mas’ud, seorang penggembala yang dianggap hina berani menentang iman para pembesar qurays dengan membacakan Surat Ar Rahmaan ditengan perkumpulan mereka didepan Ka’bah. Sehingga tubuh ringkihnya babak belur oleh pengeroyokan.

Inilah wujud keimanan yang kokoh dalam menerima Islam.

Tidak ada PEMAKSAAN
Dalam Islam..

” Maka masuklah kedalamnya dengan kelembutan (birifqin)”

Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Rasuulullah ketika mengajak orang mengenal Islam. Beliau selalu menunjukan akhlak yg baik, lemah lembut, dermawan dan penuh kasih sayang pada manusia bahkan yang belum beriman sekalipun. Kisah Rasuulullah menyuapi seorang bapak tua yang beragama Yahudi disudut Kota Madinah. Padahal setiap saat, si Yahudi buta ini terus mengeluarkan kata2 kasar dan sumpah serapah pada Rasuulullah. Namun balasan Rasuulullah Sungguh mulia, beliau tetap menyuapinya tiap hari hingga kewafatan beliau.
Saat Abubakar menggantikan Rasuulullah menyuapi si Yahudi, dia merasa ini bukan orang yang biasa menyuapinya. Karena merasa berbeda, iapun bertanya “siapa engkau? Yg biasa menyuapiku orangnya lembut dan penuh kasih sayang, sementara engkau kasar”. Sahabat mulia Abubakarpun menangis Dan menceritakan kalau Rasuulullah telah wafat. Seketika Yahudi buta ini menangis, menyesali kata2 kasarnya pada beliau Dan akhirnya masuk Islam.

Selain mendahulukan kelembutan Dan kasih sayang dalam mengajak orang mengenal Islam, Rasuulullah juga mengajarkan kita agar memudahkan dalam segala urusan, jangan mempersulit, berusaha membuat hati orang lain senang dan berbaur dengan manusia2 yang bermacam macam.

Tidak ada PEMAKSAAN Dalam Islam

“Karena esungguhnya orang Yang memaksakan diri (dengan mengangkat beban lebih) tidak akan sampai tujuan dan punggungnya pun patah”

Termasuk tindakan memaksakan diri dikalangan kaum muslimin adalah Sikap ghuluw(berlebihan, terlalu) atau Ekstrim Dalam beragama.
Hal ini ditunjukan dengan adanya fenomena orang banyak berbicara tanpa ilmu. Mudah mengutip Ayat ayat Alquran atau Hadits yang dianggapnya sebagai dalil dalam menghukumi sesuatu. Padahal sangat jauh panggang dari api.
Dengan pengetahuan yg apa adanya mereka lancang berfatwa menghukumi takfir, tadhlil Dan tabdi’ pada orang diluar kelompok mereka.
Lebih2 lagi, mereka fanatik buta pada pendapat mereka sendiri. Hanya mau menerima pendapat yang berasal dari kelompoknya tanpa mau menerima kritik meski berlandaskan ilmu yg jernih.
Mereka berpendapat dan menolak keras pendapat yang berbeda padahal hanya persoalan furu’. Mereka bahkan mencela tindakan yang tidak sesuai dengan sikap mereka dengan menuduh hal tersebut tidak berdasar dalil. Padahal ketika disodorkan dalil, kebanyakan mereka diam karena jauh dari memahami.

Mereka juga berbicara seolah mampu melakukan istimbath hukum dan mencela orang lain yang mengambil pendapat para ulama dengan label “taqlid buta”
(Lihat ‘alaa bashiiroh, diatas jalan petunjuk,(K.H.M Ihya’ Ulumiddin) hal;385.

Mereka diibaratkan dengan orang yang suka mengangkat berat lebih, menunjukan keshalihan beragama dengan cara berlebihan dalam melaksanakan syariat2 dhohir. Sebaliknya melalaikan kerusakan2 sisi tazkiyah seperti mudah marah, mencela dan berkata kasar.

Benarlah apa yang telah disampaikan Rasuulullah 14 abad yang lalu. Abu Ya’la meriwayatkan sebuah Hadits dari Hudzaifah Yang menuturkan bahwa Rasuulullah SAW bersabda:

“Yang Aku khawatirkan adalah akan adanya orang Yang membaca Al Quran hingga dilihat orang lain Akan kebagusannya. Ia beebaju Islam tetapi kemudian terlepas lalu dicampakan kebelakang punggungnya Dan is mendatangi tetangganya sambil membawa pedang Dan menuduhnya sebagai musyrik”. Aku bertanya: “Ya Nabiyallah, manakah yang lebih tepat disebut musyrik, Yang dituduh atau yang menuduh?” Beliau menjawab: “Yang menuduh”

Wallohu yatawallil jamii’a birri’aayatih..

“Ummu Naseem”

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started