Materi Taklim PP Al Aiman (oleh: Ustadz Saiful Azhari)
Dari Abdullah Bin Umar r.a, ia berkata: Rasuulullah s.a.w bersabda: “Manusia itu seperti seratus kumpulan dari seratus kelompok unta yg hampir tidak Kamu dapatkan diantara satu unta yg bisa dijadikan kendaraan”
Hadits ini merupakan Hadits sederhana yg syarat makna, tentang gambaran kehidupan akhir zaman. Dimana manusia semakin sulit mengenal dirinya sendiri, memakai keberadaan nya didunia, juga maksud dan tujuan Allah menciptakan nya. Manusia semakin terkekang oleh nafsu Dan sulit mengendalikannya oleh Karena minimnya ilmu Diin dan lemahnya tarbiyah.
Hadits ini menggunakan kata ‘roohilah’ yakni mengandung makna sulitnya mendapatkan unta yg bisa dinaiki. Bermakna sulitnya mengkader manusia manusia agar bisa menjadi manusia paripurna, manusia pilihan yg memiliki ilmu dan hidmah (pengabdian) yg tinggi serta semangat berjuang pantang menyerah.
Mencari orang2 terpilih atau kader2 militan yg komitmen dengan dienul Islam dizaman ini diibaratkan mencari 1 unta diantara 10.000 unta.
Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain sebagaimana yg disebutkan oleh Fudhoil bin Yaman sebagai dukhoon, ‘kabut’ pada keimanan. Oleh sebab kedangkalan aqidah, kerusakan pemikiran, kecenderungan pada keburukan dan maksyiat. Termasuk mudahnya Kita mengakses informasi tentang keburukan yg jauh dari ukuran syariat. Sementara informasi tentang amal kebaikan dan orang orang sholih seolah sengaja ditenggelamkan.
Selain itu, Di jaman ini pula mudah kita temukan orang orang berbicara tanpa ilmu, mengutip ayat ayat Alquran dan Al Hadits tanpa pemahaman yg benar Dan lurus. Mereka hanya mempeturutkan hawa nafsu dunia dan mencari ketenaran semata. Agama yg mulia ini tak lagi ditempatkan pada keluruhuran dan keagungannya sebagaimana sunatullah diwahyukannya pada Rasuulullah. Sebaliknya hanya sebagai alat utk mendapatkan keuntungan dunia yang tak seberapa.
Tak ayal, manusia semakin banyak yg apatis pada agama manakala ia hanya menjadi perdebatan kusir dimimbar mimbar dan dipertentangkan pemahamannya dengan saudara seiman lainnya.
Kader militan yg mumpuni semakin langka ditemukan. Dan lembaga yg mengkader calon calon generasi militan seperti inipun, semakin langka, dijauhi, ditinggalkan dan tak dianggap kren.
Abuya Sayyid Muhammad dalam kalam beliau yg terkenal menyikapi hal ini mengatakan:
Hubbah,hubba,hubbah. Idzaa baarokal Maulaa, tulqiil hubuuba.. (satu biji, satu biji, satu biji, kalau Allah meletakkan berkah maka akan menyebar dengan sendiri nya dan akan muncul tunas tunas baru)
Hadits ini juga menjadi pengingat atau tadzkiroh bagi para guru dan murobiy yg memiliki lembaga yg diniatkan utk menghasilkan kader2 yang mumpuni atau menusia manusia yang beekarakter. Meski terasa sangat sulit dan dalam mengelolanya tidak jarang mendapat ujian bertubi tubi. Bahwa ada setitik harapan beratnya usaha pengkaderan dan berbagai ujian yg mendera didalamnya akan memunculkan berkah, yg tanpa disadari meskipun hanya satu tunas pada akhirnya akan menyebar dengan sendiri nya dan melahirkan tunas2 baru.
Berkahlah yg harus dicari dan terus diupayakan bukan banyaknya pengikut. Meski lembaga pengkaderan yg dibangun ini tampak ‘sepi’, tdk gemerlap bahkan cenderung ditinggalkan orang. Tapi didalamnya ada berkah yang selalu diupayakan oleh para guru, dengan terus menyebarkan ilmu, disertai doa doa tulus, kesabaran dan keberterimaannya pada segala kesulitan yg ada.
Karena berkah bersifat
‘Al barkatu haashilah. Amrun maknawiy”.
Berkah itu tak kasat Mata tapi maknanya terasa dihati. Ia bermakna dalam kemanfaatannya yg luas.
Gambaran makna keberkahan bisa dilihat pada sejarah kehidupan para ulama dan Waliyullah dari generasi generasi shalafusholeh terdahulu. Seperti kisah kitab dasar Bahasa Arab, Jurumiyah. Tak pernah diketahui siapa pengarang kitab tersebut, tapi ia menjadi rujukan wajib diberbagai pesantren dlm belajar ilmu nahwu. Diceritakan bahwa kitab Jurumiyah setelaha ditulis lalu dilempar kelaut. Pengarangnya meyakini bahwa kalau kitab ini ditulis dengan ikhlas dan akan besar manfaatnya, nanti akan ditemukan orang.
Kemudian kitab ini ditemukan oleh seorang nelayan ditepi laut lalu kemudian menyebar sampai dipesantren tanah Jawa.
Hal ini menjadi sebuah pembelajaran bagi kita ketika ingin mendidik diri, mencari ilmu dan mentarbiyah jiwa untuk mencapai kesempurnaan diri. Kemudian Kita berada dlm sebuah lembaga atau entitas organisasi keilmuan dan dakwah, maka kita perlu memperhatikan sisi berkah yg harus kita temui dan rasakan didalamnya. Meski kadang lembaga seperti ini terlihat sepi sepi saja, kurang banyak peminat juga tidak nampak kren, namun bila masih bisa meneguk ilmu dan hikmah didalamnya. Kemudian ilmu itu menyantuh Hati dan menggugah jiwa sehingga menggerakkan hati untuk semangat berbuat baik, maka berpegang teguh padanya menjadi sebuah pilihan mulia.
Meskipun syaithon terus menggoda dan membisikan rasa jenuh dan bosan juga menampakan kekurangan kekurangan lalu membuat kita ingin lari dan menjauhinya.
Dan yang harus dipahami bahwa Ilmu yg diperoleh sejatinya bukan semata tentang seberapa banyak yg masuk dalam otak atau yg mampu kita hafal, namun lebih pada seberapa besarkah ia membekas pada jiwa? Yang kemudian melahirkan akhlak pada guru,sahabat dan lingkungan kita.
Dalam Hadits dikatakan:
” Bukanlah ilmu itu tentang banyaknya, tapi yg disebut ilmu adalah pada berkahnya”
Proses mencari berkah ilmulah yg seharusnya terus kita upayakan dalam kelompok kecil ini. Segala ujian yang menyertai didalamnya pada hakikatnya hanyalah ‘cara’ Allah untuk menguji keikhlasan kita. Apakah dalam proses mencari ilmu dan mengamalkannya masih terselip penyakit penyakit yang mengotori hati seperti ujub, riya Dan bangga diri. Sehingga kotornya hati tersebut memghancurkan amal sehingga menghalangi sampainya pada Allah. Disinilah Kita memahami ujian sebagai jalan membersihkan hati dan amal kita.
Dalam kebersamaan mengkaji ilmu dien inilah kita saling bahu membahu melakukan dakwah dan hidmah ( pengabdian) untuk melatih keikhlasan kita dlm perjalanan menuju Allah.
Ada 3 proses yg mengantarkan kita agar memperoleh berkah ilmu
- Hidmatul ilmi. Memuliakan ilmu, hidmah pada ilmu, dan menghormati ilmu
- Menghormati guru, yg memiliki ilmu
- Melayani sesama teman yg mengaji bersama kita. (Al Hadits)
Kalam hikmah Abuya Sayyid Muhammad Al Malikiy
“Melekatnya ilmu dapat diperoleh dengan cara Banyak membaca dan barokahnya dapat diraih dengan cara berhidmah, sedangkan manfaatnya dapat diperoleh dari adanya restu sang guru’
Di resume oleh Ummu Naseem