Oleh Ustadz Saiful Azhari
“Jalaul Afkar, Hadist Ke 13”
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amar Al Anshori Al Badri r.a Ia berkata : Nabi saw bersabda:
(Sesungguhnya termasuk sesuatu yg diperoleh manusia dari bagian sabda kenabian permulaan adalah; jika kamu tidak punya perasaan malu maka kerjakanlah APA yang kamu sukai)
Diawal dakwah bersama para sahabat utama Assabiquunal _awwaluuna_di Mekkah, Rasuulullah mendidik aspek2 pokok dalam Sisi aqidah dan keimanan, dan tauhid semata. Pada fase dakwah Mekkah, yg bersifat dakwah Sirr, Rasuulullah melakukan pembinaan dan pengkaderan di Darun Nadwah, rumah sahabat Arqom bin Abi Arqom beserta sejumlah kecil sahabat.
Belum banyak ayat ayat yg berkaitan dgn Tata cara ibadah mahdhoh dan tata cara baku dalam muamalah seperti yg kita kenal saat ini diberbagai pembahasan fiqh.
Oleh karena itu, pembinaan dan pengkaderan Rasuulullah yang meliputi 3 aspek utama yaitu: Aqidah, tadzkiyah dan Tsaqofah mengutamakan suur (Rasa) beragama, atau yang kita kenal dengan istilah DZAUQ.
Aspek ‘rasa dalam beragama’ (dzauq) yang dibangun oleh Rasuulullah diawal masa kenabian sebagaimana tergambar dalam Hadits diatas adalah mengasah kepekaan rasa malu; malu kepada Allah, Rasuulullah, Malaikat ataupun malu kepada diri sendiri dan sesama manusia.
Begitu pentingnya rasa malu ini tumbuh Dalam diri seorang Muslim, sampai sampai Imam Nawawi dalam kitabnya (kitabul ‘adab) membahas keutamaan malu dalam Bab tersendiri dan mengemukakan keutamaannya agar seorang Muslim berakhlak dengan rasa malu.
Ibnul Qoyyim Al jauziyyah bahkan mensejajarkan Al haya ‘ ( malu) dengan
Al hayah (hidup). Sebagai pelajaran seolah olah orang yang tak punya rasa malu sama dengan orang yang tak hidup alias mati.
Rasa malu (Al haya’) merupakan bagian Dari pundi pundi Iman. Selain Al ‘ayyun ( gagap, bermakna kehati hatian dlm berbicara) Dan Al ‘afaaf ( mudah terima, tidak hitungan).
Oleh Karena besarnya keutamaan Rasa malu ini, make syaithon melakukan berbagai macam cara dan tipu daya agar akar Rasa malu tercerabut dari akhlak seorang mukmin. Bahkan syaithon menjadikan hilangnya rasa malu pada diri seseorang sebagai bagian dari program utama penhjancuran manusia.
Lalu, kita menyaksikan apa yang terjadi saat ini, didepan mata Kita, generasi kita bahkan para tetua tetua kita. Hilangnya rasa malu Al haya’) seolah menjadi fenomena umum, yg menjangkiti hampir semua kalangan, baik masyarakat biasa maupun pejabat Dan orang2 yg diberi amanah kepemimoinan.
Masyarakat seolah terbiasa mendapati anggota leluarganya yg melakukan perzinahan, Hamil sebelum nikah, narkoba, miras dan lain lain.
Seringkali Kita lihat orang tua yg memaksa menikahkan anaknya yg sdh hamil di kantor KUA atau mendatangi seorang ustadz dengan dalil agar anak yg dikandung mendapat pengakuan.
Al hasil, Yang dipikirkan oleh orang tua bukanlah akibat dari dosa besar tersebut, dihadapan pengadilan Allah kelak.
Sebaliknya hanya mengkhawatirkan pandangan manusia dan masa depan pelaku sendiri.
Keterputusan nasab anak hasil zina merupakan konsekwensi logis akibat pembangkangan pada syariat Allah.
Jangankan zina, mendekati zina saja sudah sangat dilarang dalam Islam seperti pacaran dan mengumbar aurat. Inil adalah tindakan preventif yg seharusnya diperhatikan Orangtua dlm mendidik putra putrinya.
Orangtua seharusnya menyadari perbuatan zina hanyalah akibat lanjut dari Sikap permisif nya pada anak perempuannya yang mengumbar aurat dan pacaran.
Tidak kah Orangtua Dan pelaku memiliki Rasa malu pada Allah, pada keluarga lain juga pada masyarakat?.
Alhasil, pergeseran nilai semakin nyata. Menganggap biasa pada dosa2 besar karena telah menjangkiti banyak orang oleh perilaku yg tidak dihiasi rasa malu.
Para pemimpin juga setali tiga uang, sebagian begitu mudah melakukan penipuan,.membuat janji janji palsu, memamerkan banyaknya harta hasil menjabat dll.
Tertangkap polisi atau dikasuskan Di KPK seolah menjadi biasa.
Kalau kita mengkaji kita2 siroh Rasuulullah dan para sahabat yg Allah beri gelar RADHIYALLAHU ‘ANHUM, Kita mendapati akhlak Yang agung Yang dihiasi rasa malu yang tinggi. Hingga seolah olah beliau beliau layaknya mutiara yang tak tampak namun cayahanya bersinar memukau pandangan siapapun yang melihatnya.
Rasa malu yang tertanam pada diri beliau oleh kuatnya proses tarbiyah Rasuulullah bahkan sudah menjadi bagian dari akhlak keseharian (Rasa malu ya NAFSANI, tabiat/watak) dalam menghadapi situasi apapun sebagaiman yang tergambar dalam Rasa malunya sahabat Utsman Bin Affan ra.
Atau Dalam kisah sahabiyah Ma’an, Yang suami nya mudah cemburi. Beliau rela berjalan kaki 14 kilometer jauhnya dipadang pasir dan menolak tawaran tumpangan dari pada sahabat lain. Beliau memilih berpayah payah sedemikian rupa disebabkan rasa malu yang tinggi jikalau menumpang boncengan lelaki selain suaminya. Beliau2 adalah manusia agung yang telah mencapai tingkatan malu Yang terkait keimananan (Al haya’ u iimaani) pada tingkatan paling tinggi, yaitu menghindari keburukan sekecil papun hanya karena takut pada Allah semata, bukan celaan atau komentar manusia.
Wallahu yatallil jamii’iy berri’aayatih…
Resume by Ummu Naseem